Teori Tes Klasik dan Modern

Psikologi.my.id Saat dibangku kuliah, dosen seringkali memberi tugas kepada para mahasiswa-mahasiswinya. Entah itu disuruh buat makalah, artikel, esai (biasanya ini diawal semester), review jurnal dan lain sebagainya. Kali ini saya akan share tentang Teori Tes Klasik dan Modern yang saya buat sewaktu dapat tugas dari dosen (ini sudah saya pos di blog pertama saya poetrasoeloeng.blogspot.com). Langsung saja cekibrot :D

1. Teori Tes Klasik
Salah satu teori pengukuran yang tertua didunia pengukuran behavioral adalah Classical True-Score Theory. Di Indonesia, teori ini sering disebut dengan teori tes klasik. Teori tes klasik merupakan sebuah teori yang mudah dalam penerapannya serta model yang cukup berguna dalam mendeskripsikan bagaimana kesalahan dalam pengukuran dapat mempengaruhi skor amatan. Inti teori klasik adalah asumsi-asumsi yang dirumuskan secara sistematis serta dalam jangka waktu yang lama. Dari asumsi-asumsi tersebut kemudian dijabarkan dalam beberapa kesimpulan.

Ada tujuh macam asumsi yang ada dalam teori tes klasik ini. Allen & Yen menguraikan asumsi-asumsi teori klasik sebagai berikut:
  1. Asumsi pertama teori tes klasik adalah bahwa terdapat hubungan antara skor tampak (observed score) yang dilambangkan dengan huruf X, skor murni (true score) yang dilambangkan dengan T dan skor kasalahan (error) yang dilambangkan dengan E. Menurut Saifuddin Azwar (2001:30) yang dimaksud kesalahan pada pengukuran dalam teori klasik adalah penyimpangan tampak dari skor harapan teoritik yang terjadi secara random. Hubungan itu adalah bahwa besarnya skor tampak ditentukan oleh skor murni dan kesalahan pengukuran. Dalam bahasa matematika dapat dilambangkan dengan X = T + E.
  2. Asumsi kedua adalah bahwa skor murni (T) merupakan nilai harapan є (X). Dengan demikian skor murni adalah nilai rata-rata skor perolehan teoretis sekiranya dilakukan pengukuran berulang-ulang (sampai tak terhingga) terhadap seseorang dengan menggunakan alat ukur.  
  3. Asumsi ketiga teori tes klasik menyatakan bahwa tidak terdapat korelasi antara skor murni dan skor pengukuran pada suatu tes yang dilaksanakan (ρet  = 0). Implikasi dari asumsi adalah bahwa skor murni yang tinggi tidak akan mempunyai error yang selalu positif ataupun selalu negatif.
  4. Asumsi keempat meyatakan bahwa korelasi antara kesalahan pada pengukuran pertama dan nol (ρe1e2 = 0). Artinya bahwa skor-skor kesalahan pada dua tes untuk mengukur hal yang sama tidak memiliki korelasi (hubungan). Dengan kesalahan pada pengukuran kedua adalah nol (demikian besarnya kesalahan pada suatu tes tidak bergantung kesalahan pada tes lain.
  5. Asumsi kelima menyatakan bahwa jika terdapat dua tes untuk mengukur atribut yang sama maka skor kesalahan pada tes pertama tidak berkorelasi dengan skor murni pada tes kedua   (ρelt2). Asumsi ini akan gugur jika salah satu tes tersebut ternyata mengukur aspek yang berpengaruh terhadap teradinya kesalahan pada pengukuran yang lain.
  6. Asumsi keenam teori tes klasik adalah menyajikan tentang pengertian tes yang pararel. Dua perangkat tes dapat dikatakan sebagai tes-tes yang pararel jika skor-skor populasi yang menempuh kedua tes tersebut mendapat skor murni yang sama (T = T' ) dan varian skor-skor kesalahannya sama (se 2=se'2). Dalam prakteknya, asumsi keenam teori ini sulit terpenuhi.
  7. Asumsi terakhir dari teori tes klasik menyatakan tentang definisi tes yang setara (essentially t equivalent). Jika dua perangkat tes mempunyai skor-skor perolehan dan Xt1 dan  Xt2 yang memenuhi asumsi 1 sampai 5dan apabila untuk setiap populasi subyek X1 =X2 + C12, dimana C12 adalah bilangan konstanta, maka kedua tes disebut tes yang pararel.

Asumsi-asumsi teori klasik di atas memungkinkan untuk dikembangkan dalam rangka pengembangan berbagai formula yang berguna dalam melakukan pengukuran psikologis. Daya beda, indeks kesukaran, efektifitas distraktor, reliabilitas dan validitas adalah formula penting yang disarikan dari teori tes klasik.

A. Daya beda
Daya beda (diskriminasi) suatu butir tes adalah kemampuan suatu butir untuk membedakan antara peserta tes yang berkemampuan tinggi dan berkemampuan rendah. Adapun fungsi dari daya pembeda adalah mendeteksi perbedaan individual yang sekecil-kecilnya diantara para peserta tes. Penentuan daya beda butir biasanya dilakukan dengan menggunakan indeks korelasi, diskriminasi, dan indeks keselarasan item. Dari ketiga cara tersebut yang paling sering digunakan adalah indeks korelasi. Ada empat macam teknik korelasi yang biasa digunakan untuk menghitung daya beda, yaitu : (1) teknik point biserial, (2) teknik biserial, (3) teknik phi, dan (4) teknik tetrachorik. Brennan (1972) sebagaimana dikutip Yen W.M dalam Encyclopedia of Educational Research memperkenalkan cara untuk menghitung Indeks diskriminasi dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

B = U _ L
      n 1    n2

Dimana dari rumus di atas dapat dimaknai bahwa daya beda adalah perbedaan antara proporsi kelompok atas yang menjawab benar butir tes menjawab benar butir tes U
                                                                                                                    n 1 
Dengan proporsi kelompok bawah yang menjawab butir tes L
                                                                                                 n 2
Rumus tersebut dapat digunakan untuk menghitung daya beda butir-butir soal dalam bentuk pilihan ganda. Daya beda juga dapat dijelaskan sebagai derajad hubungan antara skor butir dengan skor  total dengan menggunakan teknik korelasi product moment dari Pearson. Rumus khusus korelasi product moment yang dikenal dengan korelasi point biserial untuk data dalam bentuk dikotomi sebagaimana dikutip dalam Encyclopedia of Educational Research adalah sebagai berikut:
rpbis = (x+ -x)   p    
Sx       q
Dimana x , mean total skor peserta yang memiliki jawaban benar. x adalah mean skormtotal S, adalah standar deviasi skor total,  p adalah proporsi peserta ujian yang menjawab benar pada butir tes sedangkan q adalah 1 - p. Rumus korelasi point biserial juga dapat diturunkan langsung dari rumus korelasi produk momen tanpa membuat pembatasan asumsi.

Alternatif lain untuk melihat indeks daya beda adalah dengan menggunakan rumus korelasi biserial. Korelasi biserial berbeda dengan korelasi point biserial baik secara teori maupun perhitungan, akan tetapi jika digunakan untuk tujuan menganalisis butir, kedua teknik tersebut dapat di interpretasikan dengan cara yang sama. Crocker menyatakan rumus korelasi biserial sebagai berikut :
rbis  = ( x+ - x  ) P
            Sx         y
"y" pada rumus korelasi biserial di atas melambangkan ordinat p dalam kurva normal. x+ adalah mean skor dari peserta tes yang memiliki jawaban benar,  x adalah mean skor total, Sx adalah deviasi standar total,  p adalah proporsi peserta ujian yang menjawab benar butir ini dikarenakan tingkat kesukaran dikombinasikan dengan kriteria oleh koefisien point biserial.
Teknik lain untuk menentukan nilai daya beda adalah dengan menggunakan teknik korelasi phi (ø) f . Anas Sudijono menuliskan rumus tentang teknik korelasi phi sebagai berikut: ø = P H – P L
                                                                                                                                   2√(p)(q)
ø adalah adalah angka indeks diskriminasi phi yang dianggap sebagai angka indeks diskriminasi butir. PH adalah proporsi orang yang menjawab benar kelompok atas. PL adalah proporsi orang yang menjawab benar kelompok bawah. p adalah proporsi seluruh peserta tes yang menjawab betul dan q adalah 1 dikurangi p.

Untuk menyatakan bahwa besaran daya beda dapat berfungsi dengan baik, ada beberapa patokan yang dapat digunakan. Menurut Djemari Mardapi, butir yang diterima harus memiliki indeks daya beda > 0,3 butir dengan indeks daya beda kurang dari antara 0,1 sampai 0,3 perlu direvisi dan jika daya bedanya < 0,1 maka butir tersebut tidak diterima. Sedangkan Ebel & Frisbie  memberikan patokan indeks daya beda sebagai berikut:

B. Indeks Kesukaran
Indeks kesukaran butir sebagaimana dinyatakan oleh Allen & Yen adalah proportion of examinees who get that item correct. Senada dengan mereka, Sax menulis bahwa indeks kesukaran adalah proporsi peserta ujian yang menjawab benar. Saifuddin Azwar (2003: 134) menyatakan dengan lebih lugas bahwa indeks kesukaran butir adalah rasio penjawab butir dengan benar dan banyaknya penjawab butir.

Proporsi menjawab benar p (proportion correct) adalah indeks kesukaran soal yang paling sederhana dan sering digunakan dalam menentukan besaran indeks.
Rumus untuk menentukabesarnya indeks kesukaran secara matematis dirumuskan oleh Saifuddin sebagai berikut: P = n1
                              N
P adalah indeks kesukaran butir, n1 adalah jumlah peserta tes yang menjawab benar sedangkan N adalah banyaknya siswa yang menjawab butir soal tersebut. Dengan demikian untuk menghitung indeks kesukaran butir dilakukan dengan tidak membagi kelompok peserta tes kedalam kelompok atas dan bawah sebagaimana untuk menentukan daya beda.

Besarnya indeks korelasi berkisar antara 0 sampai 1. Makin tinggi besaran indeks korelasi maka butir soal tersebut semakin mudah. Dan semakin kecil angka indeks korelasi maka butir soal tersebut semakin sulit. Indeks kesukaran yang berada disekitar 0,5 dianggap yang terbaik. Karena itulah maka menurut Allen & Yen tingkat kesukaran yang baik adalah 0,3 sampai 0,7. Butir dengan tingkat kesulitan dibawah 0,3 dianggap butir soal yang sukar sedangkan jika indeksnya diatas 0,7 butir soal tersebut dianggap mudah.

Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan berkaitan dengan indeks kesukaran butir yaitu bahwa nilai p bagi suatu butir hanya menunjukkan indeks bagi kelompok yang diuji. Harga p ini bisa berubah jika tes diujikan pada kelompok yang berbeda. Selain itu, indeks kesukaran yang dihasilkan dari rumus ini adalah indeks kesukaran yang berlaku bagi kelompok secara keseluruhan bukan perorangan. Indeks kesukaran bagi tiap peserta tes tidak bisa disimpulkan dengan melihat indeks proporsi menjawab benar p.

C. Efektivitas Distraktor
Setiap tes pilihan ganda memiliki satu pertanyaan serta beberapa pilihan jawaban. Diantara pilihan jawaban yang ada, hanya satu yang benar. Selain jawaban yang benar ada juga Jawaban yang salah atau distractor (pengecoh). Dengan demikian, efektifitas distraktor adalah seberapa baik pilihan yang salah tersebut dapat mengecoh peserta tes yang memang tidak mengetahui kunci jawaban yang tersedia. Semakin banyak peserta tes yang memilih distraktor tersebut, maka distaktor itu dapat menjalankan fungsinya dengan baik.

Cara menganalisis fungsi distraktor dapat dilakukan dengan menganalisis pola penyebaran jawaban butir. Pola penyebaran jawaban adalah suatu pola yang dapat menggambarkan bagaimana peserta tes dapat menentukan pilihan jawabannya terhadap kemungkinan-kemungkinan jawaban yang telah dipasangkan pada setiap butir.

Menurut Fernandes (1984: 29) distraktor dikatakan baik jika dipilih oleh minimal 2% dari seluruh peserta. Distraktor yang tidak memenuhi kriteria tersebut sebaiknya diganti dengan distraktor lain yang mungkin lebih menarik minat peserta tes untuk memilihnya.
Meskipun penggunaan teori tes klasik relatif mudah dalam menganalisis butir, tapi teori ini memiliki beberapa kelemahan mendasar. Kelemahan utama teori tes klasik adalah keterikatan alat ukur teori tersebut pada sampel (sample bound). Kemampuan kelompok siswa yang mengikuti tes sangat mempengaruhi nilai statistik. sehingga nilai statistiknya akan berbeda jika tes diberikan kepada kelompok yang lain. 

Selain itu, perkiraan kemampuan peserta tergantung pada butir soal. Jika indeks kesukaran rendah maka estimasi kemampuan seseorang akan tinggi dan sebaliknya. Perkiraan kesalahan pengukuran tidak mencakup perorangan tetapi kelompok secara bersama-sama. Hal ini dikarenakan respon setiap peserta tes terhadap soal tidak bisa dijelaskan oleh teori tes klasik.
Dalam proses pembelajaran hal-hal tersebut akan menimbulkan berbagai macam kesukaran terutama untuk melihat kemampuan peserta tes secara perorangan. Oleh karena itulah ada upaya untuk membebaskan alat ukur dari keterikatan terhadap sampel (sample-free). Berangkat dari hal itulah para ahli kemudian menyusun teori baru yang bermaksud untuk melengkapi dan memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada dalam teori tes klasik. Teori ini kemudian dikenal dengan Item Response Theory (IRT) atau teori respon butir.

2. TEORI TES MODERN
Teori tes modern sering juga disebut Latent Trait Theory yaitu performance subjek dalam suatu tes yang dapat diprediksi dari kemampuannya yang bersifat laten. Atau lebih dikenal dengan Item Response Theory (IRT) yaitu respon subjek terhadap item yang menunjukkan kognitifnya. Kelebihan kinerja subjek dapat dilihat dengan Item Characteristic Curve (ICC). Artinya semakin baik performance subjek akan semakin banyak respon (jawaban pada aitem tes) yang benar.
Unsur teori dalam tes modern meliputi:
-         Butir (item tes)
-         Subjek (responnya)
-         Isi respon subjek

Asumsi-asumsi dalam tes modern:
  1. Parameter butir soal dan kemampuan adalah (Invariant). Artinya soal yang dibuat memiliki korelasi positif dengan kemampuan yang diukur.
  2. Unidimensionality, artinya 1 item mengukur satu kemampuan. Asumsi ini kurang terbukti karena pada dasarnya antara item 1 dengan lainnya saling melengkapi.
  3. Local independence, artinya respon terhadap suatu item tidak akan berpengaruh terhadap item lainnya.
Parameter butir soal pada IRT:
Ukuran atau aturan-aturan yang digunakan untuk mengetahui mana soal yang valid (bisa dipakai) dan mana soal yang tidak valid (tidak bisa dipakai). Aturannya ada 3:
  1. Daya pembeda soal, Artinya item soal bisa dianggap baik kalau item soal tersebut dapat digunakan untuk membedakan antara subjek yang berkemampuan tinggi dari subjek yang berkemampuan rendah.
  2. Taraf kesukaran soal, Artinya item soal bisa dianggap baik kalau item soal tersebut tidak terlalu sulit dan tidak terlalu mudah.  
  3. Kebetulan menjawab benar. Artinya item soal bisa mendeteksi subjek yang menjawab asal-asalan dan kebetulan benar.
Penggunaan parameter tersebut tergantung pada penyusun alat tes, boleh menggunakan ketiganya atau hanya menggunakan dua saja. Ada tiga pilihan yang bisa digunakan:
  1. Logistik 1 Parameter. Jika menggunakan logistik 1 parameter, item-item yang akan digunakan hanya diuji taraf kesukaran soalnya saja. Contoh saya membuat 50 item soal, setelah saya uji cobakan kepada N=100. Langkah selanjutnya saya hanya harus menyeleksi mana item-item yang memiliki taraf kesukaran sedang (item yang sedang ialah item yang bisa dijawab oleh 60% subjek). Langkah terakhir item-item yang diketahui taraf kesukarannya sedang langsung bisa digunakan untuk tes.
  2. Logistik 2 Parameter. Jika menggunakan logistik 2 parameter, item-item yang akan digunakan harus diuji taraf kesukaran soalnya dan juga daya beda soalnya. Jelasnya item-item yang tidak terlalu sulit dan tidak terlalu mudah serta bisa membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah, itu yang bisa dipakai sebagai item soal tes.
  3. Logistik 3 Parameter. Jika menggunakan logistik 3 parameter, item-item yang akan digunakan harus diuji taraf kesukaran soalnya, diuji daya beda soalnya, dan diuji kemungkinan kebetulan menjawab benar.
Demikian sekilas tentang teori tes klasik dan modern yang dapat saya share. Tulisan diatas dirangkum dari berbagai sumber. Ada yang saya ambil dari buku, modul mata kuliah dan juga beberapa artikel maupun jurnal secara online. Semoga bermanfaat. 
Read More

Contoh Interpretasi Tes Grafis dan Wartegg

Psikologi.my.id - Jika sebelumnya saya share tentang Sejarah Perkembangn Tes Grafis, sekarang saya mau share tentang contoh Interpretasi Tes Grafis dan Wartegg. Tapi sayang file picture-nya udah di setor ke dosen tanpa di scan terlebih dahulu :D

Ada yang familiar dengan istilah dibawah ini?

Tes DAP (Drawing A Person)
Tes DAT (Drawing A Tree)
Tes HTP (House, Tree, Person)
Tes Wartegg (Bukan akronim warung Tegal lho)

Ke-empat tes tersebut lumrah digunakan di Indonesia, karena tes tersebut sangat praktis dan tidak memerlukan biaya yang mahal. Penulisan interpretasi ini merupakan pembelajaran yang sangat berarti bagi saya karena disamping bisa mendapat pengetahuan yang baru, tentang bagaimana caranya menginterpretasi suatu tes juga untuk mengukur sejauh mana pemahaman mahasiswa (khususnya saya) dalam menyerap Mata Kuliah Tes Grafis. Berikut ini ada sedikit uraian tentang ke-empat tes tersebut yang merupakan interpretasi dari tes grafis dan tes wartegg yang diambil dari tes secara langsung.

A. DASAR INTERPRETASI DAT (Drawing A Tree)

a). Interpretasi Umum

- Kesan umum : Pohon yang di gambar adalah pohon mangga yang ukurannya sedang, bercabang, berdaun dan berbuah.

- Posisi gambar : Cenderung ke kanan 
Indikasi : Extrovert, cenderung realistis, orientasi masa depan, peka pada lingkungan dan berani       menentang.


- Proporsi gambar : Sedang
  Indikasi : Mampu menempatkan diri secara baik di lingkungan

- Kualitas garis : Tekanan garis sedang
   Indikasi : Yakin akan kemampuan diri.

  b) Interpretasi Isi

- Akar : Garis-garis tak teratur
Indikasi : Adanya hambatan atau regresi pada fase-fase awal perkembangan.

- Batang : Lurus agak besar
Indikasi : Cukup percaya diri, adanya kemauan yang tinggi dan cukup punya ide.

- Dahan : Terbuka dan tersebar
Indikasi : Adanya perkembangan yang belum sempurna khususnya dalam pergaulan sehari-hari, menjalankan banyak kegiatan tapi tidak menentu, tidak tetap cara kerjanya dan mudah dipengaruhi.

- Cabang : Lurus, berdaun dan ada buah
Indikasi : Kemauan yang kuat, mengedepankan ego dan selalu memprioritaskan diri sendiri.

- Mahkota : Terpisah-pisah
Indikasi : Ragu dalm memutuskan sesuatu, takut menyakiti hati orang lain, cenderung diplomatis dan kurang memperlihatkan maksud yang sebenarnya.

- Dasar pohon : Kosong tak disertai rumput
Indikasi : Mandiri, percaya diri, tidak tergantung dan cukup adaptif.

KESIMPULAN

Dari beberapa uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa kecenderungan sifat yang sering muncul pada diri subyek, maka subyek termasuk individu yang ekstrovert, cukup percaya diri, kemauan yang tinggi, mandiri dan mudah beradaptasi.

B. DASAR INTERPRETASI DAP (Drawing A Person)

a) Interpretasi Umum

- Kesan umum : Yang digambar adalah seorang pemuda berusia sekitar 20 tahun yang berbaju koko lengkap dengan peci, merentangkan kedua tangan dan nampak tersenyum.

- Posisi gambar : Di tengah
Indikasi : Adaptif, bisa menyesuaikan diri dan ingin diperhatikan.

- Proporsi gambar : Kecil
Indikasi : Merasa kurang aman.

- Kualitas garis : Tekanan garis kuat
Indikasi : Motivasi yang kuat, dorongan menyelesaikan masalah, mudah bergerak dan kekanak-kanakan.

b) Interpretasi Isi

1. Kepala (agak besar)

Indikasi : Ada kemungkinan gangguan organis (sering sakit), kurang masak dalam introspeksi atau fantasi, aspirasi intelektual yang dangkal.

- Rambut : Terlihat sedikit karena tertutup peci
Indikasi : Tidak suka pamer dan tidak pasti.

- Telinga : Sedang
indikasi : Cukup baik dalam menyerap informasi dan adanya daya kritik.

- Mata : Lebar dan sedikit ada penekanan
Indukasi : Bersemangat,  bermusuhan dan mengancam, histeris egoistis.

- Hidung : Agak besar dan ada penekanan
Indikasi : Semangat dan daya seksualitas yang tinggi.

- Mulut : mengarah ke atas seolah-olah tampak tersenyum
Indikasi : Memaksakan diri, berpura-pura sebagai orang yang bisa menerima.

- Dagu : Rata
Indikasi : Bertanggung jawab dan adanya dorongan agresif.

2. Leher : Pendek
Indikasi : Sifat memanjakan diri sendiri, perwujudan dorongan yang tidak terkendali.

3. Bahu : Lurus dan rata
Indikasi : Yakin akan kemampuan dirinya.

4. Badan : Kecil
Indikasi : Menghindari dorongan fisik, perasaan inferior dan merasa kurang kuat.

5. Kaki : Kecil
Indikasi : Kurang agresif dan kurang kestabilan atau kemantapan diri terhadap situasi yang dihadapi sekarang.

6.  Lengan dan tangan : Kecil, lurus dan terentang
Indikasi : Merasa tidak mampu mencapai hasil, mampu bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan terbuka terhadap dunia luar.

KESIMPULAN

Dari beberapa uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa kecenderungan sifat yang sering muncul pada diri subyek, maka subyek termasuk individu yang mampu beradaptasi dengan lingkungan dimana ia tinggal, namun subyek merasa tidak nyaman dengan situasi dilingkungannya dan ingin adanya perubahan.

C. DASAR INTERPRETASI HTP (House, Tree, Person)

1. Interpretasi Umum

- Proporsi gambar : Sedang
Indikasi : Daya intelektualitas tidak terlalu baik, bisa mengontrol emosi.

- Komposisi gambar : Tidak ada hubungan
Indikasi : Adanya hubungan yang tidak baik.

- Posisi gambar : Rumah dan pohon berjauhan dan orang berada ditengah-tengah tapi sedikit lebih dekat dengan gambar rumah.
Indikasi : Adanya hubungan yang tidak baik antara ayah dengan ibu. Subyek cenderung lebih dekat dengan figur ibu dari pada ayah, dan lebih sering jauh dari orang tua.

2. Interpretasi Isi

- Rumah (House) : Sederhana, bagus dan tertutup
Indikasi :  Persepsi subyek terhadap ibu baik (positif), peranan ibu sebagai pelindung baik, kurang adanya penerimaan dari ibu.

- Pohon (Tree) : Tidak terlalu besar dan tidak terlalu domonan
Indikasi : Persepsi subyek terhadap ayah baik (positif), tidak menunjukkan sikap otoriter, tidak galak, cukup memberi kesempatan.

- Orang (Person) : Tampak tersenyum dan melambaikan tangan
Indikasisi : Adanya kecemasan tentang keluarganya dan berusaha menjauh dari bayang-bayang orang tua dan ingin mandiri.

KESIMPULAN

Dari interpretasi di atas dapat disimpulkan adanya kecenderngun sifat yang ada pada diri subyek yang berhubungan dengan keluarga diantaranya: Subyek merasa ingin meninggalkan kegiatan-kegiatan yang ada di rumah. Hal ini bisa dilihat dari gambar orang yang jauh dari pohon dan rumah. Mungkin ini karena adanya keinginan untuk hidup lebih mandiri.

INTERPRETASI TES WARTEGG

-  Emotion : Seclusive
Indikasi : Cenderung introvert, berorientasi pada diri sendiri, cenderung memandang berbagai hal dari perspektif pribadi, sangat peka dan mudah mengalami suasana hati depresif, cenderung menarik diri dan lari ke dunia imajinatif yang penuh spekulasi ataupun spiritualitas, sangat berorientasi pada pengalaman pribadi dan cenderung senang berpikir, melakukan refleksi atau perenungan dan memiliki karakteristik yang lebh khas atau unik karena lebih banyak diam.

- Imagination : Combinative
Indikasi : Cenderung berpikir praktis, realistis, segala sesuatunya harus berdasarkan fakta, emosi kuat,  objektif dan memiliki nilai estetis meskipun terkesan konvensional.

- Intellect : Speculative
Indikasi : Lebih senang bekerja dengan prinsip-prinsip umum, cenderung berpikir secara makro, senang memikirkan hal-hal yang berbau teoritis secara luas, bahkan bisa memformulasikan suatu teori atau konklusi baru dengan melihat perspektif luas, jika taraf kecerdasannya di atas rata-rata ia menjadi pribadi yang sophisticated (elegan dan smart), jika taraf kecerdasannya rata-rata performancenya samar-samar antara rasiona namun tidak praktis dalam merealisasikannya dan agak jauh dari realitas.

- Activity (Will) : Dynamic
Indikasi : Tidak bisa diam, suka beraktivitas, cenderung impulsiv, pribadi nyang mudah masuk ke usaha atau bidang baru, sangat bersemangat dan sensitif, peka terhadap informasi, energinya besar untuk dapat mengerjakan banyak tugas pada saat yang sama, jika energinya terarahg bisa menjadi produktif, namun jika tidak terarah bisa menjadi sia-sia.

KESIMPULAN AKHIR (Gabungan Antara Tes Grafis dan Tes Wartegg)

Dari uraian tentang hasil tes grafis dan tes wartegg di atas maka dapat disimpulkan bahwa sifat yang sering muncul dan dominan adalah sifat yang cenderung dimiliki oleh subyek. Adapun sifat-sifat tersebut adalah :
· Termasuk individu yang adaptasinya cukup baik dengan lingkungan sekitarnya.
· Peka dan sensitivitas yang tinggi.
· Punya kemauan yang tinggi, egoitis dan cenderung memprioritaskan dirinya sendiri.
· Bersemangat, punya yang besar untuk melakukan sesuatu. Namun mudah di pengaruhi sehingga membuatnya ragu-ragu dalam memutuskan suatu masalah.
· Daya intelektualias yang rendah.
· Berusaha menutupi kelemahan dengan kelebihan yang dimilikinya.
· Lebih suka diam namun daya agresifitasnya cukup tinggi.
· Ingin diperhatikan oleh lingkungan dimana ia tinggal. 

Tambahan: Contoh gambar Tes DAP, DAT, HTP dan Wartegg yang banyak beredar diteras mbah Google :)

1. Contoh gambar TES DAP (Drawing A Person)


2. Contoh gambar TES DAT (Drawing A Tree)



3. Contoh gambar TES HTP (House, Tree, Person)



4. Contoh gambar TES WARTEGG 
                         
Bukan yang ini. Hehe

                                                                     Tapi yang ini

                               
Demikian contoh cara menginterpretasi Tes Grafis dan Wartegg yang bisa saya share. Semoga bermanfaat dan terima gaji :D



Read More

Psikologi: Sejarah Tes Grafis dan Perkembangannya

Psikologi.my.id - Dalam Psikologi, banyak terdapat alat-alat tes yang di gunakan.  Alat tes biasanya digunakan sesuai dengan kebutuhannya. Salah satu alat tes yang akan saya share disini adalah Tes Grafis yang materinya adalah tugas dari dosen dulu (dulunya pakek banget) :D. Well, mungkin ada sedikit copas, maklumlah mahasiswa karbitan. Hehe. Selamat membaca...

- SEJARAH TES GRAFIS
Di masa lalu, minat klinis terhadap gambar-gambar berkisar sekitar persoalan teoritik mengenai hubungan genius dan gila dan kemiripan karya seni orang gila dengan karya seni yang dihasilkan oleh orang primitif dan anak-anak.

Dari kepustakaan terbukti adanya usaha-usaha untuk mengklarifikasikan ciri-ciri gambar sesuai dengan kelompok-kelompok psikiatris. Tetapi kelompok-kelompok deskriptif ini sedemikian kaburnya dan tumpang tindih sehingga Anastasi dan Foley dalam penelitian kepustakaan yang melelahkan ini terpaksa menarik kesimpulan bahwa diferensiasi-diferensiasi melalui gambar-gambar hanya dapat dilakukan pada mereka dengan gangguan mental berat dan hanya dengan individu-individu yang menghasilkan gambar-gambar yang menakjubkan dan aneh. Apabila gambar-gambar terbatas untuk dapat dibedakan maka gambar-gambar ini tidak akan dapat membantu diagnosis.

- FENOMENA PROYEKSI

  • Tes Draw A Man
  • Tes menggambar pohon
  • Tes analisa tulisan tangan
  • Tes Wartegg
  • Kepala (skala 1)
  • Leher (skala 2)
  • Leher dua dimensi (skala 3)
  • Mata (skala 4)
  • Detail mata: alis atau bulu mata (skala 5)
  • Detail mata: pupil (skala 6)
  • Detail mata: lekukan mata (skala 7)
  • Hidung (skala 8 )
  • Hidung, dua dimensi (skala 9)
  • Mulut (skala 10)
  • dst… sampai pada item “pergerakan tangan”(skala 72), “pergerakan lengan”(skala 73).
  • Kecil, cenderung berhati-hati,teliti, irit misal terhadap harta atau waktu.
  • Besar, ambisius, cenderung melakukan kesalahan, berharap berlebih dari apa yang dimiliki.
  • Goresan kuat, menunjukkan sisi agresi, pemenuhan diri.
  • Goresan lembut, menunjukkan kehalusan, ketertutupan diri, ketenangan diri.
  • Goresan berulang-ulang, menunjukkan keraguan, kecemasan.
  • Bagian atas, pribadi independen, memiliki banyak dorongan dalam hidup.
  • Bagian bawah, pribadi yang realistis, praktis, skeptis.
  • Bagian tengah, pribadi yang dapat mengatur diri sesuai kemampuan dengan situasi sekitar, adekuat dalam perencanaan.
  • Sedikit garis, hanya garis utama, pola pikir konseptual, memandang secara keseluruhan dan cenderung mengabaikan detil.
  • Banyak garis dan detil, perhatian terhadap detil.
  • Tinggi, menunjukkan tinggi harapan, cara berpikir, besarnya ego.
  • Penguatan bagian atas, ambisius, energik.
  • Pendek melebar, menyenangi kestabilan, konsistensi, aturan dan keamanan.
  • Tertiup angin, aktivitas, goyah, dorongan untuk bergerak.
  • Munculnya dasar tanah, indikator rasa aman dan perencanaan.
  • Adanya tanah, digambarkan secara lembut, menunjukkan kebahagiaan.
  • Digambarkan pada pot, menunjukkan pemberontakan, keinginan untuk berubah.
  • Digambarkan di lembah, dorongan untuk diperhatikan.
  • Emosi; pembedaan introversi dan ekstroversi.
  • Imajinasi; perbedaan antara imajinasi kreatif dan penggabungan. Imajinasi penggabungan lebih didasarkan dari persepsi, penerimaan berbagai hubungan realitas yang ada dan imajinasi kreatif lebih ditekankan pada tidak ada hubungan antara realitas dengan fantasi pribadinya.
  • Intelektual; perbedaan antara intelegensi spekulatif dan praktis. Intelegensi praktis lebih menekankan pada pola pikir sistematis, fakta, realitas konkret dan intelegensi spekulatif lebih menekankan pada prinsip daripada fakta dan teori-teori praktis.
  • Aktivitas; perbedaan antara aktivitas dinamis dan terkontrol. Aktivitas dinamis merepresentasikan individu dengan kesiapan untuk mengeksplorasi, antusiasme, pemenuhan kebutuhan diri sementara aktivitas terkontrol menunjukkan lebih pada kestabilan dalam pilihan dan tindakan.

- KEMANTAPAN PROYEKSI
Antusiasme untuk membuka rahasia yang ada pada gambar, yaitu membuka rahasia yang tidak dapat dilakukan metode-metode penelitian yang lainnya telah dinyatakan berulang kali oleh banyak ahli yang bekerja di bidang klinis. Akan tetapi antusiasme ini tidak meluas kearah konstruksi prinsip-prinsip intepretasi yang dapat mencakup seluruh penyebaran analisis kepribadian. Minat terhadap kemungkinan-kemungkinan yang ditawarkan ekspresi grafis untuk mengerti kepribadian meningkat semenjak itu.

Para ahli klinis mengumpulkan gambar-gambar tetapi pelaksanaan analisis gambar itu sendiri terbatas pada penjelasan masalah-masalah khusus pada kasus–kasus individual, mempertimbangkan ciri-ciri formal atau struktural dan menghitung ciri-ciri yang khas yang ada pada kelompok-kelompok tertentu. Gambar-gambar sebagai suatu alat analisis kepribadian yang komprehensif haruslah berkembang dari studi dan pengertian mengenai kepribadian individu maupun dari analisis ciri-ciri kelompok dan dapat ditelusuri kembali pada suatu rasional yang mantap dan mendasar.  Penerapan dan penggunaan tes grafis adalah untuk membantu diagnosa, keperluan seleksi, dan keperuan klinis, dan dilaksanakan secara klasikal/masal.

ASAL USUL METODE
Prinsip-prinsip analisis sementara yang dikemukakan dalam bahasan ini mempunyai perkembangan empirik terutama dalam variasi yang luas dari materi klinis yang didapatkan dari klinik-klinik dan rumah sakit jiwa selama kurang dari 15 tahun. Pendorong dan fokus utama dari penelitian ini lebih berkisar sekitar penyempurnaan teknik menggambar sebagai suatu alat khusus untuk analisis kepribadian dari pada sekitar hipotesis teoritik tertentu. Pada saat melakukan tes “Draw a Man” dari goodenough untuk mencari I.Q didapatkan bahwa suatu studi yang teliti terhadap gambar-gambar inividu seringkali memberikan materi tingkatan intelektual subjek. Anak-anak dengan usia mental yang sama sering menghasilkan gambar yang sangat berlainan. Disamping itu sudah biasa bahwa anak-anak yang tidak bicara serta mereka yang mempunyai hambatan sosial, menyambut baik kesempatan untuk melepaskan fantasi-fantasi, anxieties dan perasaan-perasaan bersalah mereka pada figur-figur yang impersonal dan sama sekali tidak terganggu oleh transparasi yang membuat samar potret diri mereka.

Komunikasi grafis anak-anak ternyata mempunyai nilai klinis sehingga gambar-gambar figur manusia segera dimasukkan dalam prosedur klinis yang rutin dan diperluas ke gambar-gambar yang dibuat orang dewasa. Pengalaman lebih lanjut dengan teknik ini menunjukkan bahwa sifat malu/takut lebih merupakan proyeksi dari kekauan si pemeriksa. Kelincahan dan kelancaran elaborasi tematik yang dikemukakan banyak orang dewasa yang berpengalaman sangat berbeda dengan kemiskinan gambar dan ketegangan yang dihasilkan. Jelaslah dan bahwa pola-pola verbal adalah simbolis tidak langsung  dan lebih mudah dipengaruhi manipulasi kesadaran daripada proyeksi grafis. Gambar-gambar individu telah diteliti secra intensif dengan asosiasi-asosiasi yang diperiksaa subyek, ditambah dengan data klinis yang relevan. Atas dasar studi ini, formulasi-formulasi dan penjelasan prinsip-prinsip intepretasi produk grafis telah dikembangkan.

Dalam buku “ Proyeksi Kepribadian melalui Gambar Figur orang “, Machover berusaha menggariskan suatu metode analisa kepribadian berdasarkan intepretasi gambar-gambar figur orang. Telah diketahui bahwa individu memperlihatkan aspek-aspek penting dari kepribadian mereka dalam gambar-gambar. Apa yang dirasakan kurang dalam taraf sistematisasi analisa suatu produk grafis yang komperhensif, dapat dikonsumsikan dan juga tidak berat sebelah dalam menggambarkan kerumitan kepribadian.

DASAR PERTIMBANGAN TEORITIK
Kita mengetahui bahwa kepribadian tidak berkembangan dalam suatu waktu vacum, tetapi melalui gerakan, perasaan dan memikirkan suatu badan khusus. Metode-metode proyektif yang menjelajahi motivasi-motivasi  telah berulang kali membuka determinan-determinan ekspresi diri yang sangat tertutup mungkin tidak disadari dan yang tidak akan dimanisfestasikan dalam komunikasi langsung. Kita dapat membuat asumsi dengan aman bahwa semua kegiatan kreatif mempunyai cap khusus dari konflik-koflik dan kebutuhan-kebutuhan yang menekan individu yang sedang berkreasi. Kegiatan yang timbul sebagai respon untuk mengambar orang, pohon, ataupun penyambungan antara pohon, orang, dan rumah merupakan suatu pengalama kreatif yang akan dibuktikan oleh individu yang menggambar. Banyaknya pengalaman kerja dengan gambar-gambar figur diatas membuktikan adanya suatu hubungan erat antara figur yang digambar dengan kepribadian individu yang membuat gambar itu.

Sejauh mana suatu gambar disebut representatif? aspek dari gambar yang jelas dan tidak berubah-ubah berhubungan dengan struktur dasar kepribadian individu dan aspek mana yang merupakan subjek dari kontrol yang disadari dan variabilitas?pada waktu meneliti gambar-gambar yang didapatkan dalam suatu jangka waktu tertentu, telah dilihat bahwa aspek-aspek struktural dan formal dari gambar orang seperti ukuran, garisan dan penempatan tidak banyak bervariasi dibandingkan dengan isi, seperti detail-detail tubuh, pakaian dan aksesoris. Besar kecilnya figur yang digambar, penempatan figur, garis-garis panjang bersambung atau pendek, sikap agresif dari figur, keluesan atau kekakuan figur, proporsi-proporsi penting dari tubuh, adanya kompulsi simetris, adanya kecenderungan ketidaklengkapan, hapusan, bayangan ( shading ) merupakan ciri yang bertahan pada struktur kepribadian. Kadang-kadang, gambar-gambar yang dihasilkan klien yang diperoleh selama beberapa tahun sangat serupa seperti hanya tanda tangan yang tidak berubah-ubah. Stabilitas proyeksi telah diuji coba dengan eksperimen yang dirancang untuk membuat validasi kesan-kesan yang diperoleh melalui penggunaan klinis metode ini.

Tes grafis adalah bagian dari tes proyektif di ilmu psikologi. Awal mula tes ini berkembang pada abad 20 permulaan meskipun pada jauh dekade sebelumnya sudah terdapat berbagai aplikasi grafologi berupa pembacaan tulisan tangan, tanda-tangan dan coretan-coretan manusia yang dapat diintepretasikan. Tokoh penting akhir abad ke-19 seperti Fechne, Wundt dan Ebbinghaus sebagai psikiater di bidang gangguan mental mempengaruhi teknik-teknik untuk melakukan assessment klinis terhadap para pasiennya. Di bidang grafologi salah satu tokoh penting tentu saja Goodenough, Machover, Moch, Kinget, Wartegg dan lain sebagainya. Bidang ilmu ini sebenarnya terus berkembang sampai saat ini dengan metode kualitatif maupun kuantitatif untuk mengungkap proyeksi dari grafis. Dengan berbagai aliran pencabangan mengenai tes grafis ini, kami hanya akan menerangkan alur utama mengenai tes grafis dan klasifikasi dasar mengenai grafologi tersebut. Adapun tipe utama tes grafis ini adalah:

1. Tes Draw A Man (Menggambar Orang)
Ada dua jenis utama tes grafis menggambar orang, yaitu berdasarkan teori goodenough-harris dan dari teori machover. Tes goodenough-harris mengungkap kemampuan IQ dengan dasar bahwa sebelum orang dapat membaca dan menulis, maka yang dilakukan adalah menggambar atau melakukan coretan. Menurut Florence Laura Goodenough, individu melakukan coretan lebih karena proses mental berdasarkan perkembangan intelektual.

Pada versi goodenough testee diminta untuk menggambar 1 figur manusia dan dinilai dalam 53 aspek. Penilaian sangat sederhana, apabila aspek tersebut muncul maka diberi nilai 1, apabila tidak muncul diberi nilai 0. Nilai tersebut dikonversikan ke norma sesuai usia dan menghasilkan nilai IQ. Sementara pada revisinya oleh Harris menjadi tes Goodenough-Harris, individu diminta menggambar 3 gambar yaitu : laki-laki, perempuan dan gambar dirinya sendiri. Aspek yang dinilai direvisi menjadi berjumlah 73. Tes tersebut pun dikonversikan ke nilai normatif sesuai usia. Tes ini seringkali dipakai untuk melihat perkembangan mental anak (pada versi harris dapat pula mengukur IQ remaja dengan aspek yang ditambahkan) dan sangat mudah digunakan dibandingkan menggunakan tes Binet atau tes Weschler. 

Sedangkan aliran dari teori Machover (dan tes ini seringkali dipakai di Indonesia untuk seleksi) lebih mengungkap kondisi psikis berdasarkan teori psikoanalisa. Machover berasumsi individu menggambar orang adalah merupakan cerminan atau persepsi diri dengan berbagai atribut yang melatarbelakangi. Proses perkembangan goresan dari 2 tahun sampai 6 tahun, figur manusia yang digambarkan karena didasarkan dari asumsi bahwa gambar yang mudah dikenali dari suatu objek adalah bentuk manusia dan semenjak dini individu sudah seringkali menggambar orang dibandingkan menggambar bentuk atau objek lain.

Menurut Goodenough, gambaran anak kecil berhubungan erat antara konsep perkembangan mental dan kemampuan intelegensi secara umum. Goresan atau coretan anak lebih menunjukkan suatu ekspresi diri daripada bentuk keindahan, gambar yang dibuat cenderung apa yang diketahui dan bukan apa yang dilihat. Bentuk atau pola yang ditonjolkan merupakan ekspresi diri terhadap apa yang penting. Dasar-dasar tersebut merupakan landasan dari perkembangan intelegensi dan mental anak yang dapat diamati mengacu pada standar normatif yang harus dibuat. Selanjutnya Dale B Harris merevisi bukannya mengubah skala goodenough dalam memberikan penilaian terhadap bobot proyeksi tes untuk menguatkan aspek-aspek penting yang belum selesai dikembangkan oleh goodenough. Skala-skala penting yang ditambahkan oleh harris termasuk dalam tema yang dapat diamati pada fase remaja, penambahan item (menjadi 73) dan menambah kekuatan tes melalui proyeksi diri. Skala-skala tersebut adalah:

Versi Machover
Pada versi ini DAP (draw a person) merupakan cerminan atau persepsi diri. Banyak aspek yang dapat diintepretasikan dari hasil coretan, baik berupa cara menggambar, posisi gambar, ruang yang dipakai, gerak maupun bentuk gambar.

Ruang: Posisi figur ditempatkan di bagian atas, bawah, kanan atau kiri kertas.
Gerak: Arah coretan alat tulis membentuk figur. Ini mencakup intensitas coretan, tekanan garis dan bayang atau arsir objek yang tergambar.
Bentuk: Seberapa berkualitas proporsi figur yang digambar, detil, penyimpangan objek dan penggabungan berbagai objek dalam satu kesatuan objek manusia.

Fungsi lain yang perlu diperhatikan adalah penekanan bagian dari objek, apakah tangan, hidung, leher, aksesoris, pengulangan objek, model arsir dan penebalan pada bagian-bagian tertentu. Hilangnya bagian dari objek misalkan tangan pun dapat menjadikan informasi penting yang harus dicermati. Penekanan dianggap sebagai konflik, atau opini lain menyatakan sebagai perhatian penting pada situasi saat itu.

Hampir semua peneliti sepakat mengenai ukuran dari figur gambar, bahwa figur gambar yang proporsional menunjukkan refleksi langsung dari penilaian diri subjek, sehingga gambar yang terlalu besar menunjukkan agresi atau dominasi sedangkan figur yang terlalu kecil terkait erat dengan ketidakpercayaan diri, rasa rendah diri dengan lingkungan sosial. Perlu diingat, representasi gambar terlalu besar bukan aktualitas dari keinginan dominasi atau agresi semata karena ada faktor tidak adekuat yang muncul yaitu kompensasi dari rendah diri.

Kepala
Dalam psikoanalisa kepala dapat diartikan sebagai super-ego, pusat dari kendali diri terhadap aturan baik religi, sosial, keluarga termasuk aturan formal sebagai orang berwarga negara. Simbolisasi kepala penting untuk melihat bagaimana individu menghadapi lingkungan sekitar yang kompleks dan cara membawa diri terhadap lingkungannya. Kepala dianggap sebagai simbol intelektualitas, fantasi, pusat dari dorongan utama subjek terhadap berbagai konstruk emosi, kebutuhan bersosialisasi atau cara berkomunikasi dan kematangan individu terhadap situasi sosial. Kepala merupakan figur sentral dorongan utama terhadap kebutuhan subjek terhadap eksistensi diri. Dapat dikatakan apabila orang yang menarik diri dari sosial cenderung mengabaikan bagian dari kepala. Analisa kepala sebaiknya lebih diperdalam terhadap bagian-bagian dari kepala. Misalkan menonjolnya hidung sampai tidak proporsional dapat dikatakan sebagai simptom grande atau waham grande. Penguatan di mata dapat disimbolkan sebagai orang yang mencoba mendapatkan perhatian lebih dari lingkungan sekitar. Bibir yang tebal atau penekanan pada bibir merupakan simbolisasi kebutuhan berkomunikasi atau keinginan untuk menonjol di lingkungan sekitarnya. Orang yang cenderung menutup diri, dibatasi oleh lingkungan akan mengabaikan aspek detil dari gambar kepala ini. Perlu diingat representasi hidung dan mulut adalah fase perkembangan awal pada tahap oral dan anal. Ketidakadekuatan hidung dan mulut juga dapat diartikan kecemasan karena pada fase akhir oral dan anal ini individu sudah mulai mengenal rasa cemas yang mendasar.

Leher
Leher berarti penghubung antara super-ego dengan dengan kesadaran diri termasuk dorongan naluri (id). Kekuatan pada leher dapat diartikan subjek memiliki perhatian besar terhadap kontrol diri antara super-ego dan tuntutan keadaan diri yang disadari. Dapat diartikan penekanan pada leher merupakan simbolisasi subjek merasa cemas atau terkekang terhadap hal-hal tertentu yang belum diselesaikan. Apa yang dicemaskan perlu dihubungkan dengan objek-objek lain dari keseluruhan gambar.

Badan
Kesadaran diri yang kompleks tertuang dalam asosiasi pada badan atau tubuh bagian tengah. Banyak sekali simbol coretan yang dapat diintepretasikan dan merupakan sumber informasi penting yang harus banyak digali. Varian dari bentuk badan adalah paling banyak dibandingkan objek lain, karena dalam gambar badan memiliki anggota tubuh yang dapat digambarkan lebih banyak termasuk berbagai aksesoris yang mungkin ikut digambarkan. Representasi dari badan adalah pusat kesadaran diri (awareness). Anda dapat perhatikan coretan anak dengan coretan remaja awal, dimana anak tidak terlalu memperhatikan bentuk badan karena kesadaran diri tidak sekompleks coretan remaja awal yang sudah memiliki kebutuhan lebih banyak. Coretan anak sangat simpel dapat berbentuk kotak, oval atau lonjong dengan bentuk sederhana. Pada coretan subjek yang lebih dewasa akan lebih memperhatikan beragam aksesoris dari kancing baju, saku, sabuk sampai dasi. Beragam kebutuhan tercermin dari aksesoris yang digambarkan, misalkan dasi merupakan simbolisasi subjek ingin sukses dalam bekerja atau menampilkan status sosial lebih tinggi dibandingkan keberadaan saat ini. Contoh lain misal cincin, jam atau kalung/gelang merupakan asosiasi kebutuhan akan harta. Sekali lagi perhatikan kemenonjolan dari objek-objek tersebut.

Bahu 
Merupakan simbol kekuatan fisik. Penguatan pada bahu merupakan asosiasi dari kebiasaan subjek melakukan kegiatan fisik atau dorongan subjek untuk melakukan intensitas fisik yang tinggi. Ketiadaan bahu atau kecilnya bahu merupakan penghindaran aktivitas fisik subjek. Intepretasi lebih mendalam lagi dan perlu didukung sumber data lain bahwa ketiadaan bahu dapat berupa terjadinya gejala schizophrenic atau gangguan otak. Intepretasi lain menyebutkan ketiadaan bahu berarti adanya ketidakberdayaan subjek terhadap hal-hal tertentu terkait dengan kondisi fisik. 

Lengan dan tangan 
Mudah mengintepretasikan objek lengan dan tangan ini. Tangan merupakan bagian tubuh yang sering sekali digunakan subjek untuk berkomunikasi non-verbal. Ada dua dikotomi terhadap lengan dan tangan, yaitu keterbukaan atau ketertutupan. Keterbukaan lengan dan tangan berarti kemampuan subjek menghadapi lingkungan sekitar dan ketertutupan lengan dan tangan merupakan penolakan atau keengganan subjek terhadap lingkungan/sosial. Tangan yang menunjukkan aktivitas gerak atau memegang objek lain misalkan cangkul atau palu dapat diartikan beragam. Perhatikan berbagai gabungan objek untuk melakukan intepretasi ini. Apabila aktivitas gerak cukup sesuai dapat menunjukkan keaktifan subjek terhadap sosial atau ringan tangan, mudah membantu. Apabila aktivitas tangan dengan memegang benda tertentu dan terjadi penguatan pada benda tersebut dapat diintepretasikan lebih ekstrim yaitu dorongan subjek untuk dapat menguasai atau dominansi sosial. Kepalan tangan dapat berupa dendam atau dorongan kuat untuk menyelesaikan sesuatu. Tangan yang disembunyikan atau disimpan dalam saku dapat diartikan ketertutupan/introversi dapat pula diartikan sebagai situasi konflik. Subjek memiliki sisi gelap (atau rasa minder) dengan tangan tersebut sehingga perlu disembunyikan.

Kaki dan Tungkai
Kaki adalah simbolisasi pergerakan, kestabilan, kekuatan subjek dalam membawa diri terhadap lingkungan sekitar. Ketiadaan tungkai atau kaki menunjukkan situasi subjek tidak aman atau nyaman dengan kondisi saat ini. Kaki dengan aktivitas misal berjalan atau meloncat berarti subjek memiliki mobilitas tinggi atau dorongan untuk berubah terhadap beragam situasi, subjek mudah jenuh terhadap situasi rutin. Menonjolnya kaki berarti kestabilan atau kemantapan diri terhadap situasi lingkungan sekitar.

Bagaimana dengan stick-man?? Selama 3 tahun melakukan tes grafis pengalaman kami hanya menemukan 2 kasus adanya gambar berupa stick-man, yang berarti 0,00 sekian persen muncul figur stick-man ini. Intepretasi dari stick-man yang paling mudah adalah regresi atau ketidakmatangan perkembangan mental tertentu. Subjek tidak mau terbebani secara sosial dengan menginginkan situasi nyaman dan aman layaknya seorang anak tanpa ada beban sosial. Menggunakan bahasa Freud, subjek mengalami fase rigid atau immature dan ingin kembali pada fase awal perkembangan mental yaitu pada fase oral. Tidak adanya representasi super-ego dan ego menjadikan subjek membuat figur dasar berupa coretan-coretan yang merepresentasikan id.

Catatan lain mengenai DAP ini adalah mengenai jenis kelamin yang digambarkan. Jangan sekali-kali langsung memberi judgment apabila subjek laki-laki menggambar figur perempuan karena adanya dorongan seksualitas yang tinggi. Gambar beda gender memiliki banyak arti dalam psikoanalisa dan yang utama adalah disebabkan oleh peran orang tua. Bila subjek laki-laki menggambar figur perempuan dapat diartikan hilangnya figur ayah menjadikan figur ibu sangat kuat dalam benaknya dan kurang diimbangi dengan figur ayah. Kekosongan figur tersebut dapat menjadikan subjek merepresikan identitas diri dan diproyeksikan kepada figur orang lain yang lebih erat. Sehingga intepretasi mengenai dorongan seksual yang tinggi bukan sebab utama karena dalam hal ini subjek mencari figur lain yang kosong dan subjek berharap dapat memuaskan kekosongan figur tersebut.

2. Menggambar Pohon
Sebelum melakukan interpretasi gambar pohon sekiranya harus diperhatikan usia dan latar belakang subjek. Kematangan usia menentukan bentuk objek yang digambarkan dan latar belakang subjek cenderung berpengaruh dengan jenis pohon yang digambar. Apabila kita melakukan tes di daerah Blora misalkan, banyak peserta menggambar pohon jati karena pohon jati hampir ada dimana-mana dan secara tidak sadar subjek sudah merekam pohon jati dari awal perkembangan hidupnya. Perihal usia, observasi gambar apakah kematangan atau isi dari objek sesuai dengan kelompok usia atau munculnya hambatan atau retardasi dari kualitas gambar tersebut.
Aspek awal yang diperhatikan dari objek adalah:

  • Ukuran terkait dengan kertas
  • Kualitas garis
  • Penempatan objek
  • Detil objek
  • Penampakan gambar
  • Dasar

Akar
Atau roots adalah dasar dari asosiasi kepribadian subjek. Akar dapat diistilahkan sebagai id, fondasi awal perkembangan subjek (terutama perkembangan seksual). Subjek yang lebih matang menggambar akar dengan dua garis atau bahkan terkesan tiga dimensi (biasanya dengan arsir). Ketidakadekuatan akar dapat berarti hambatan atau regresi pada fase-fase awal perkembangan. Kuatnya akar menunjukkan subjek memiliki dorongan id yang kuat yang harus dihadapi. Munculnya akar yang kuat dapat berarti konflik atau kecemasan karena subjek harus mengekang dorongan itu yang direpresentasikan dengan kuatnya gambar batang pohon.

Pangkal Batang
Sangat berhubungan dengan akar. Apabila munculnya akar dan munculnya pangkal batang maka dilihat proporsi kemiringan dari pangkal batang tersebut. Apabila ada kemiringan dalam pangkal batang tersebut maka dapat dikatakan sebagai inhibisi atau hambatan dari fase awal perkembangan pribadi.

Batang
Representasi batang adalah ego pribadi subjek. Fase awal individu akan lebih menggambar batang dalam bentuk kerucut, dan pada fase lebih dewasa gambar lebih proporsional, lurus dan serasi dengan penguatan pada garis baik 2 garis maupun bentuk 3 dimensi. Kuatnya batang menunjukkan penekanan akan ego, dorongan untuk menonjolkan diri, diakui termasuk aspek emosional-afeksi.  Perhatikan pula pada penggelembungan atau penebalan. Penebalan berarti penimbunan dengan indikasi adanya hambatan. Terlalu kuatnya garis atau tekanan pada batang menunjukkan agresi atau penekanan. Kecenderungan untuk mendominasi sosial. Coretan yang bergelombang menunjukkan emosionalitas dalam berhubungan sosial.  Perhatikan juga apakah ada arsiran atau ornament dalam batang, misalkan batang yang patah, lubang pada batang menunjukkan bahwa subjek memiliki sesuatu dalam diri yang ingin disampaikan. Informasi tersebut bisa berupa gangguan subjek dalam menjalin hubungan atau kecenderungan intelektualitas subjek tinggi. Perhatikan representasi ornament batang dengan batangnya itu sendiri.

Bayangan objek
Perhatikan bayangan objek bila ada. Representasi bayangan terhadap objek adalah keadaan emosional yang ingin disampaikan. Kualitas bayangan yang lembut, arsiran yang memadai menunjukkan kepekaan terhadap sosial, namun apabila bayangan cenderung gelap dapat merepresentasikan kecemasan.

Diantara batang dan mahkota daun terdapat dahan. Dahan ini menunjukkan pesan psikis antara ego dengan super-ego. Penekanan pada dahan berarti adanya perkembangan yang belum sempurna terhadap sikap sehari-hari subjek dengan lingkungan. Apabila ada pemotongan dahan berarti ada periode perkembangan yang berhenti menyangkut psikis.

Mahkota
Mahkota menunjukkan super-ego, penerimaan individu terhadap norma dan aturan. Kemampuan menerima norma dilakukan sesuai kapasitas intelektual subjek. Selain itu mahkota dapat digambarkan keterbukaan atau ketertutupan yang menunjukkan sikap subjek dalam menerima lingkungan sekitar apakah cenderung terbuka atau tertutup.

Wartegg Drawing Completion Test
Tes wartegg yang banyak dikenal di Indonesia adalah versi Kinget. Pengembangan dari Kinget awal mula dikembangkan oleh Krueger dan Sander dari Leipzig University dengan paham Ganzheit Psychologie atau Wholistic Psychology. Pengembangan selanjutnya dilakukan oleh Ehrig Wartegg dan Kinget.


Tes ini yang terdiri 4 deret kotak di bagian atas dan 4 deret kotak di bagian bawah dengan ukuran 1,5 x 1,5 inchi terdiri dari pola tertentu berupa titik, garis lengkung, garis kaku dengan berbagai pola.Menurut Kinget dengan 8 stimulus tersebut dapat memberikan sarana untuk melakukan eksplorasi terhadap berbagai nilai yang relevan untuk melakukan diagnosa terhadap subjek.
Menurut Sander, pola goresan tersebut dapat merepresentasikan berbagai aspek yaitu:
          
Ada tiga tahap penting untuk melakukan interpretasi wartegg ini yaitu hubungan antar goresan dengan gambar, isi dari gambar dan cara gambar dibuat atau dalam kuliah mungkin diajarkan sebagai tahap Stimulus drawing relation, Content dan Execution.

Stimulus drawing relation
a. Titik; titik merupakan stimulus terkecil dan mudah untuk terabaikan, namun karena posisi di tengah menjadikan mudah untuk dilihat. Subjek dikonfrontir dengan masalah yang kurang signifikan terhadap hal-hal yang dianggap penting. Munculnya respon terhadap titik berarti munculnya sensitivitas; afektif-kognitif, situasi nyaman, secara emosi stabil, spontan, sense of detail. Tidak adanya atau pengabaian pada titik berarti perasaan terasing, ketegangan, rasa tidak aman, secara afeksi labil dan kurang perhatian.

b. Wavy line; menyatakan sesuatu yang “hidup”. Munculnya respon berarti harmoni, relaks, hubungan dengan sosial yang memadai. Tidak ada respon yang adekuat berarti keterasingan, ketegangan dan kecemasan, antagonis, tidak aman dan hambatan afeksi.

c. Tiga garis vertikal menaik; menunjukkan kebiasaan, perintah atau kemajuan. Kepekaan respon berarti kesesuaian terhadap fakta, intelegensi teoritis, pengaturan, kestabilan. Ketidakpekaan/respon kurang memadai berarti kurang realistis, kurang aktif, tidak konsisten dan rendahnya self-esteem.

d. Kotak hitam; menunjukkan solid, statis, kaku dan kesannya “menekan”. Kepekaan respon berarti berpikiran faktual, kurangnya respon berarti kurang realistik dalam berpikir (praktis).

e. Dua garis hampir menyilang; menunjukkan konflik, dinamis, menunjukkan pola konstruktif/teknis. Kepekaan terhadap respon berarti pola pikir faktual, teoritis, pengaturan, kompetitif dan ambisius. Respon yang kurang peka berarti pola pikir praktis, kurang aktif, kurang konsisten, pendiam.

f. Garis horisontal dan vertikal; garis kaku yang saling mengkonfrontir. Kepekaan terhadap respon berarti pola pikir faktual, teoritis, pengaturan, kompetitif dan ambisius. Respon yang kurang peka berarti pola pikir praktis, kurang aktif, kurang konsisten, pendiam.

g. Setengah lingkaran dot; menunjukkan kehalusan dan keluwesan. Kepekaan respon berarti kognitif afektif, teoritis, pengaturan, relaks, interaksi sosial memadai, ketepatan dan detil. Respon kurang peka berati keterasingan, tidak aktif secara sosial, ketegangan, kurang perhatian.

h. Kurva; terkesan besar, santai, pemenuhan dan mudah untuk merespon. Kepekaan respon berarti santai, hubungan sosial yang memadai, kurang peka respon berarti keterasingan dan rasa tidak aman.
Corak dalam 8 kotak dapat dibagi dua, yaitu berupa coretan maskulin dan coretan feminin. Coretan maskulin terdapat pada kotak 3, 4,5,6 berupa garis kaku dan sisanya garis lengkung dapat menunjukkan coretan feminine.

- PERKEMBANGAN TES GRAFIS
Dalam satu dekade terakhir, pemeriksaan psikologi mempunyai pengaruh besar pada  kehidupan manusia Indonesia. Kebanyakan dari mereka yang bersekolah, masuk perguruan tinggi, melamar pekerjaan, ikut seleksi untuk menduduki jabatan tertentu, pernah mengikuti suatu pemeriksaan psikologi.

Pemeriksaan psikologi yang mereka jalani tidak selalu sama, tergantung dari tujuan pemeriksaan dan alat pemeriksaan yang digunakanpun berlainan. Misalnya siswa Taman Kanak-kanak menjalani pemeriksaan psikologi agar dapat diketahui kesiapan anak untuk mengikuti pelajaran di Sekolah. Tes yang berbeda dipakai untuk siswa kelas I Sekolah Menengah Umum yang bertujuan untuk menentukan apakah yang bersangkutan lebih sesuai untuk jurusan A1, A2, A3 atau A4. Dengan semakin meningkatnya penggunaan jasa psikologi dalam berbagai bidang, maka tidaklah mengherankan apabila muncul banyak biro psikologi dan meningkatnya peminat untuk mengikuti pendidikan psikologi karena psikologi kini dianggap sebagai lahan yang dapat memberikan penghasilan yang layak.

Dalam hal tes grafis, para psikolog sedikit demi sedikit memang tidak memakai lagi tes grafis sebagai tes proyeksi, karena teorinya sudah dianggap kuno (sekarang sedang eranya Kognitif), dan juga tidak ada hasil-hasil penelitian yang menunjang validitasnya. Bahwa masih ada yang senang memakainya, tentu saja demikian. Tetapi jumlah mereka makin sedikit. Di University of Queensland misalnya, bagian psikologi  klinisnya bahkan sama sekali tidak menggunakan tes grafis lagi. Kalau pun ada rekan-rekan psikolog Indonesia yang merasa bahwa tes itu masih valid, ya silakan saja. Tetapi sekali-sekali ujilah validitas itu dengan penelitian yang baku. Jangan-jangan karena sudah keenakan (kebiasaan) memakai tes itu, rasanya sudah paling valid saja, pada hal di luar sudah bertumbuhan tes-tes baru yang jauh lebih valid. Kalau ada yang mengatakan bahwa dokter tidak apa-apa kalau diambil stetoskopnya, itu tidak benar, karena tanpa stetoskop dan alat rontgen, dia tidak bisa berbuat banyak seperti kalau ia memakai alat-alat itu. Sebaliknya, psikolog sebetulnya tidak apa-apa juga kalau alat tesnya diambil, karena ia bisa pakai alat yang lain, atau buat alat sendiri. 
Read More